Cerita Sex Dewasa Gara – Gara Nonton film Korea Blue

Cerita Sex Dewasa Gara – Gara Nonton film Korea Blue

Spread the love

Cerita Sex Dewasa – Hari ini tanggal 15 Februari, tepat sehari setelah valentine. Gadis ini, Eunri, menatap kearah langit biru. Ia menarik nafas panjang, semalam adalah malam yang berat. Seluruh artis terkenal Korea berkumpul merayakan valentine bersama. Banyak artis yang merayakan malam itu bersama kekasih mereka, tetapi sebagian lagi hanya sendirian dan datang demi meramaikan.

Cerita Sex Dewasa Gara - Gara Nonton film Korea Blue

Cerita Sex Dewasa Gara – Gara Nonton film Korea Blue

Salah satunya adalah Eunri, dia datang hanya sebagai pemanis dan hanya untuk menemani adik kecilnya, Eunji. Eunji bersenang-senang semalam, dia menikmati malam itu bersama kekasihnya, Cho Kyuhyun. Iri? Ya, Eunri sangat iri pada adiknya. Kalau boleh jujur, ia menyukai Kyuhyun, jauh sebelum adiknya itu mengenal Kyuhyun sendiri. Tapi kenapa, kenapa harus adiknya yang mendapatkan cinta pria itu? Ia menenangkan dirinya, ia sangat membenci pikirannya saat ini.

“Eonnie, semalam adalah malam yang saaaangat indah. Kyuhyun benar-benar pria yang romantis, aku sangat mencintainya. Dia mengajakku pindah ke apartementnya, apakah boleh?” Eunji mengintrupsi khayalan Eunri. Gadis berwajah lembut itu segera menatap adiknya sedikit galak.

“Tidak boleh.” jawabnya tegas. Eunji menatap memohon kepada Eunri. “Apa yang harus ku katakan pada Appa dan Eomma jika mereka mengetahui putri bungsunya tinggal seatap dengan seorang pria yang bukan suaminya?”

“Mereka jangan sampai tau.” rengek Eunji berharap Eunri berubah pikiran.

“Tidak boleh! Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Kamu itu tanggung jawabku, aku tidak bisa membiarkanmu. Terserah mau membujuk atau merajuk, jawabannya tetap tidak boleh.” Eunri tetap tak tergoyahkan, Eunji cemberut.

“Eonnie, kau jahaat!!!” teriak Eunji lalu masuk ke kamarnya.

“Hah, aku hanya tidak siap…” ya, Eunri hanya tak siap, ia tak siap kehilangan adiknya, ia tak siap melihat adiknya berpelukan mesra dengan cintanya, ia tak siap mengecewakan orangtuanya, ia tak siap dengan resiko yang akan ditanggungnya.

Eunri mengusap kasar wajahnya, akhir-akhir ini permintaan adiknya untuk tinggal di apartement bersama Kyuhyun semakin intens, hampir tiap hari gadis itu memohon dan merengek. Ia lelah dengan permintaan itu, tapi dia tak mau bersikap kasar pada Eunji. Bagaimanapun, dia sangat menyayangi Eunri daripada hal lainnya.

Eunri diam, ia mendengar suara telepon berbunyi dan itu jelas bukan telepon genggam miliknya, itu pasti milik adiknya. Ia menatap ke segala arah hingga menemukan telepon genggam adiknya ada diatas kasur.

“Ah, dia meninggalkan telepon genggamnya.” Eunri mengambil telepon itu dari atas kasur. Hyunnie itulah si penelpon, Cho Kyuhyun. Eunri menjawab telepon itu dengan sedikit gemetar.

“Y-yeoboseyo?”

“Eunji, sayang, jadi bagaimana? Eonnie mu memperbolehkan?” suara pria dari ujung sana, Eunri menarik nafas, suara yang sangat disukainya,

“Kyu, ini Eunri, Eunji sedang berada di kamarnya.”

“Benarkah? Astaga, maafkan aku, aku tidak menyadarinya padahal suara kalian sedikit berbeda, hahaha…”

“Ya, tidak papa. Jadi apa maksudmu ‘Eonnie mu memperbolehkan’ Kyu?”

“B-bukan masalah besar, hahaha…” Eunri dapat merasakan bahwa pria ini tengah gugup.

“Jika ini berhubungan dengan meminta ijin dariku pastilah sesuatu yang penting. Apakah itu? Masalah pindah apartement?”

“Ya, begitulah, hahaha…” Eunri menarik nafas, entah kenapa hatinya terasa sakit. “Ehem, jadi apa kau mengijinkannya?”

“Seperti jawabanku yang biasa Kyu, jawabannya tidak.”

“Haah… jadi begitu…” nada kecewa terdengar jelas di telinga Eunri. “Bisakah kita bertemu? Hari ini di café yang biasa?”

“Ya, baiklah, aku kesana sekarang.”

“Baiklah, sampai jumpa.”

Sambungan telepon terputus. Eunri menarik nafas panjang, ia baru menyadari satu hal, sedari tadi ia telah menangis.

“Kyu, disini!” gadis itu berseru seraya melambaikan tangannya kearah pria berambut coklat gelap yang baru saja tiba.

“Brrr… padahal sedang musim panas tapi sedingin ini.” keluh pria itu. Gadis ini tersenyum ketir, cuaca diluar sana tak sedingin hatinya kini.

“Jadi kamu ingin menyampaikan apa?”

“Seperti yang kamu ketahui, ini masalah pindah apartement. Aku tau kamu ini Eonnie nya tapi bukankah kamu terlalu mengekang Eunji?” Kyuhyum menatap Eunri serius. Tatapan yang membuat Eunri hampir meleleh.

“Aku tidak mengekangnya Kyu, aku tengah melindunginya.”

“Apakah aku terlihat seperti penjahat sampai kamu harus melindunginya dariku?”

“Aku tak melindunginya darimu, aku melindunginya dari kemungkinan dikucilkan oleh keluarga kami karena tinggal bersama pria yang bukan suaminya.” Eunri bersikap tenang seraya menyeruput teh pesanannya.

“Kalau begitu bagaimana jika kami menikah?”

Deg… seketika jantung Eunri berdetak kencang, sangat kencang hingga membuat dadanya terasa perih. Pertanyaan pria ini menusuk langsung ke jantungnya, menyakiti dirinya. Tangannya gemetar hebat, dengan segera ia menurunkan cangkirnya agar pria di hadapannya tak menyadari bahwa tangannya tengah bergetar.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu? K-kau tau kan banyak hal yang membatasi kalian? L-lagipula itu… i-itu…” Eunri berbicara begitu cepat, ia sangat amat panik sekarang ini. Alasan apa yang bisa diberikannya agar mencegah mereka bersatu.

“Aku rela melakukan apa saja demi Eunji. Aku mencintainya.” tatapan mata Kyuhyun melembut, ia tersenyum mengingat wajah cantik gadisnya.

Eunri semakin tak kuasa, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia berdiri dengan cepat dengan mata menatap lantai, membuat Kyuhyun dan seluruh orang di café menatap heran kearahnya, ia berusaha menormalkan dirinya. Tangannya menggepal, ia mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum, walau itu hanya senyum palsu dan mengandung banyak kepedihan yang kini dirasakannya.

“Kalau begitu, segeralah menikah. Jika kalian sudah menikah aku tak lagi bisa melarang. Maafkan aku harus pulang sekarang, aku ada janji dengan seseorang. Tolong traktir aku dulu, aku akan bayar pesananku jika kita bertemu lagi.” Eunri tersenyum lalu berjalan keluar dari café senormal yang ia bisa.

Eunri terus berjalan tanpa arah, air matanya perlahan mengalir tepat saat hujan turun membasahi seluruh tubuhnya. Semua orang berlarian menghindari hujan tapi tidak dengannya, ia tetap berada di bawah hujan, ia hanya ingin menangis dibawah hujan. Ia tak peduli sebasah apa dan sekacau apa dirinya sekarang, dia hanya ingin melepaskan sakit yang kini dirasakannya.

“Eun, sedang apa basah-basahan disini?” sebuah suara membuat ia menghentikan langkahnya.

“Aku tak papa, hanya sedang ingin bermain hujan.” gadis itu berbalik sambil memberikan acting senyum terbaiknya kepada orang yang menyapanya, itu adalah Henry.

“Kekanakan sekali. Kemarilah, aku yakin payung ini bisa melindungi dua orang.” Henry merangkul gadis itu. Eunri hanya tersenyum. “Hei Eunri.”

“Ne?”

“Berhenti berbohong. Aku melihat semuanya di café itu. Aku menyadari senyum palsumu, jadi berhenti berbohong.”

“Ternyata kamu melihatnya, haha… actingku tak berguna lagi.” Eunri tertawa lirih, ia melepas tangisan yang sempat ditahannya.

“Menangislah jika itu membuatmu lebih lega.” Henry menarik gadis itu dalam pelukannya. Eunri menangis, sekeras yang ia bisa. Melepas segalanya, dalam pelukan sahabatnya itu.

“Eonnie, apakah kamu benar-benar harus pergi sekarang?” Eunji menatap memohon kearah Eunri.

“Ya, sayangku. Aku harus pergi sekarang.” Eunri tersenyum lembut.

“Tapi, besok adalah hari pernikahanku. Tak bisakah Eonnie tinggal sehari lebih lama?” Eunri menggeleng pelan.

“Tidak. Maafkan aku. Aku harus ke Kanada sekarang, tidak bisa besok.” Eunri berusaha menghibur Eunji. Eunri menatap kearah Kyuhyun yang ikut mengantarnya ke bandara.

“Bahagiakan dia.” Kyuhyun tersenyum dan mengangguk.

“Kita harus berangkat sekarang, Eun, pesawatnya sudah tiba.” Henry menepuk bahu Eunri. Gadis itu mengangguk.

“Nah sayangku, adik kecilku yang manja, aku punya hadiah kecil untuk kalian. Ini adalah rahasia kecilku tentang kalian, bacalah setelah pernikahan kalian, jangan sebelum. Aku harap kalian bahagia.” Eunri menyerahkan suratnya, Eunju menerimannya lalu mengangguk.

“Aku janji akan membacanya setelah pernikahan.”

“Gadis baik.” Eunri memeluk Eunji untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum lalu melambai kearah pasangan yang akan segera menikah itu. Ia melangkah meninggalkan mereka tanpa berbalik, air matanya mengalir perlahan. Henry merangkul gadis itu, menguatkan dirinya.

“Eun…”

“Ne?”

“Sebelumnya jangan marah.”

“Baiklah.”

“Mau jadi pacarku?” Eunri menatap kaget kearah Henry. Pria itu mengalihkan pandangannya sementara wajahnya memerah. Eunri tersenyum lembut.

“Ya, kenapa tidak?” Henry menatap Eunri kaget. Ia tersenyum kemudian merangkul gadis itu semakin erat.

“Aahhh… aku lelah sekali.” keluh Eunji. Kyuhyun hanya tersenyum menatap gadisnya. “Baiklah, waktunya membaca surat dari Eonnie.”

“Dear my little Sister, Choi Eunji

Kamu membaca ini setelah menikah, kan, bukan sebelum? Aku tak mau menghancurkan pernikahanmu.

Baiklah pertama aku ingin mengakui satu hal, aku menyukai Kyuhyun jauh sebelum kalian kenal satu sama lainnya. Yap, ketika kau bertanya apa aku menyukai Kyuhyun 2 tahun yang lalu, aku bohong saat kubilang tidak, jawaban sebenarnya adalah iya, aku sangat menyukainya. Ini bukan salahmu kok bersama Kyuhyun sekarang, yang salah itu aku. Kamu sudah berusaha menjaga perasaanku jadi kamu menanyakan apa aku menyukai Kyuhyun tapi aku bohong. Coba aku tak bohong mungkin sekarang aku yang… ah… itu hanya mungkin…

Kedua, maafkan aku menghalangi kalian bersatu dengan cara mencegah kalian tinggal satu apartement. Memang alasan utamanya adalah yang selama ini kukatakan padamu saat aku melarangmu tapi alasan yang lain adalah, aku egois. Aku takut kalian semakin cinta satu sama lainnya dan akan sulit dipisahkan jadi aku memutuskan untuk memisahkan kalian dari awal. Tapi itu malah membuat kalian semakin cinta, hahaha… ada penyesalan tapi itu tak apa.

Aku membuat surat ini agar tidak ada lagi rahasia antar kita. Aku memutuskan meninggalkan Korea dan tinggal di Kanada karena aku ingin menghindari kalian, dan mungkin mencari cinta baru. Lagipula Kanada adalah negara impianku jadi aku memutuskan untuk tinggal disana, mewujudkan salah satu mimpiku yang hampir terlupakan.

Jika ingin jujur ada alasan lain yang membuat tekatku semakin bulat. Aku hanya tak bisa…

Aku hanya tak bisa… melihat kalian bersama…

Aku hanya tak bisa… terus mengumbar senyum palsu…

Aku hanya tak bisa… bersikap seakan bahagia…

Aku hanya tak bisa… merelakan cintaku…

Aku hanya tak bisa…

Jangan menangis, jangan menyalahkan dirimu. Ini salahku, aku turut bahagia dengan pernikahanmu. Aku menyayangimu.

Choi Eunri

PS: Sorry karena kemarin aku gak bayar pesananku. Di amplop ini ada uang gantinya kok, hehehe…”

Eunji tersenyum kecil pada surat itu. Ia menangis terisak. Ia merasa bersalah, selama ini ia telah menyakiti kakaknya, membuat kakaknya menderita, merebut cinta kakaknya. Kakak yang terus tersenyum dihadapannya, berkorban demi kebahagiaannya, bahkan tak pernah mengeluhkan rasa sakitnya,

“Eonnie, aku minta maaf.” air mata Eunji terus mengalir sementara Kyuhyun merasa bersalah karena tak menyadari seberapa gadis itu berkorban demi mereka. End