Cerita Sex Dewasa Ngentot Dengan Pegawai PLN

Cerita Sex Dewasa Ngentot Dengan Pegawai PLN

Spread the love

Cerita Mesum – Panggil saja nama saya Alin, saya adalah mama muda dan cantik yang berusia 26 tahun dan saya sudah memiliki 1 anak.

Saya menikah di usia muda pada umur 19 tahun dengan suami saya ilham namanya. Saya memutuskan untuk menikah di usia muda karena saya sudah hamil duluan, saya dan suami saya tipe orang yang tak bisa menahan nafsu sampai pada akhirnya kami menikah.

Dulu waktu kami pacaran, kami melakukan hubungan seks di kos kami. Kami pacaran hanya sebentar saja, selang beberapa bulan saya sudah hamil. Entah memang jalan hidup saya, dan ilham adalah jodoh saya. Saya dulunya luluh dengan Mas Ilham karena penampilan dia yang cukup menawan dan juga kaya raya, semua yang saya minta pasti ia belikan.

Sampai-sampai saya rela memberikan perawan saya kepadanya, dan saya juga mengenal dunia seks dengan mas ilham. Dari dulu yang tak tau apa-apa tentang seks, sekarang sudah jago memuaskan nafsu suami saya. Kedua orangtua saya menyayangkan jika saya menikah dulunya, karena mereka ingin saya sekolah lebih tinggi lagi dan menjadi orang sukses.

Setelah menikah dengan mas Ilham, orang tua mas Ilham meminta semuanya mobil, kartu kredit dan kami pun mulai hidup dari nol. Suami saya menjadi pengangguran selama 1,5 tahun, lika-liku hidup sudah banyak saya alami. Termasuk hidup yang selalu dalam kekurangan.

Mas Ilham adalah anak dari orang kaya, namun dia dibiarkan berusaha sendiri tanpa menggantung pada orangtuanya. Dari menjadi sales sampai jualan di depan rumah pun mas Ilham lakukan demi keluarga. Saya dan mas Ilham terus-menerus pindah rumah, karena kami selalu telat untuk membayar kontrakan rumah kami. Namun rintangan hidup itu sudah berlalu, karena orangtua mas Ilham meninggal dunia.

Semua warisan dari orangtuanya itu menjadi hak suami saya, karena dia adalah anak satu-satunya. Warisan orangtuanya sangat banyak, saya dan mas Ilham menjadi kaya mendadak. Kami pun pindah ke rumah yang sangat mewah dan mendapatkan uang untuk modal usaha.

Saya sangat bersyukur sekali bisa menjalani hidup serba enak, dan serba bercukupan. Setiap hari saya ke salon untuk perawatan tubuh saya, itu sudah menjadi rutinitas saya sehari-hari. Saya merawat tubuh saya dari atas hingga bawah penampilan saya pun sekarang sudah berubah.

Mas Ilham makin hari makin sayang dengan saya, melihat penampilan saya yang sangat mempesona setiap harinya. Nyuci baju, strika dan memasak pun tak pernah saya lakukan lagi, semua sudah di ambil alih oleh pembantu saya. Anak saya pun di asuh oleh babysitter saya, kehidupan saya sudah berubah 180 derajat. Usaha mas Ilham pun sudah berjalan dengan lancar, dengan mempunyai modal yang besar dan untungnya juga besar.

Kami masih bisa menabung buat anak kami, dan juga jalan-jalan ke luar negeri. Setiap bulannya saya dan juga mas Ilham menyempatkan waktu berlibur mengajak anak saya dan juga babysitternya. Orangtua saya yang sudah tua pun saya ajak tinggal di rumah saya, tinggal bersama di rumah mas Ilham dan untung aja mas Ilham orangnya baik dan penurut sama saya.

Saya sekarang hanya memiliki ibu saja, karena ayah saya udah meninggal dunia.
Pada waktu itu listrik di rumah saya mengalami konslet, satu harian gelap. Karena petugas PLN datang esok hari, jadi kami terpaksa menggunakan lampu darurat dulu. Pada keesokannya sebelum suami saya berangkat kerja, saya mengingatkan mas Ilham jangan lupa untuk memanggil petugas PLN.

“Mas… jangan lupa petugas PLNnya suruh datang pagi ini juga ya..”
“iya ma…dia Feri namanya udah papa telpon semalam, kalau tak datang nanti papa hubungi lagi aja ya ma…”
“oh! ya sudah deh pa, hati-hati di jalan ya pa…”

Mas Ilham berpamitan pergi hingga larut malam karena harus mencari dagangan hingga keluar kota. Tak lama mas Ilham pergi, petugas PLN datang. Terlihat dari kejauhan petugas PLN datang bersama temannya yang berjumlah 2 orang, namun yang masuk kedalam rumah hanyalah satu orang dan yang lainnya pergi untuk membenarkan listrik di daerah sini juga.

“tuuuokk….tuuuookkk…permisi…”

“iya…sebentar….” teriak saya sangat keras.

Saya membuka pintu dan saya begitu terkejut melihat pegawai PLNnya, pegawai PLNnya begitu tampan dan rapi. Namanya Feri, masa iya sih ia adalah pegawai PLN.

Saya masih kebingungan dan juga terheran-heran, ketika melihat pegawai PLN. Ternyata dia yang mengawasi dan juga mengecek saja yang memperbaikinya adalah teman yang satunya. Saya terus memperhatikan gerak Feri, dari awal masuk hingga mengikuti kemana saja.

“Sudah lama ya menjadi pegawai PLN…?”

“ya mbak sudah 3 tahun lebih..”

“Sudah berkeluarga apa belum mas…?”

“Sudah mbak, saya sudah mempunyai anak 2 dan istri saya kerja di salah satu bank. Kalau mbak sudah berapa anaknya?”

“Anak saya masih 1 mas…” dengan senyum sembari memandangi Feri.
“Walaupun sudah mempunyai anak mbak masih tetap cantik dan seksi, dari penampilan mbak masih ABG ya…”
“ah! masa sih mas Feri?” pujinya pada saya.

Saat itu saya menjadi malu ketika dipuji, mendadak wajah saya jadi memerah ketika ia bilang saya cantik dan seksi. Sampai siang hari belum juga selesai diperbaiki, masih banyak yang harus diperbaiki. Mas Feri terlihat bosan, saya melihat ia merokok disudut rumah saya. Saya mencoba mendekatinya dan kami pun mengobrol asyik layaknya sudah kenal lama.

Mas Feri juga nyambung kalau diajak ngobrol rasanya cocok sekali, yang dibahasnya juga kadang-kadang lelucon sampai-sampai saya tertawa keras.

Saya memakai rok pendek dan kaos yang ketat dan sesekali mas Feri juga membalas pandangan saya. Apalagi Saya kadang-kadang lupa kalau saya pakai rok, duduk saya gangkang, mas Feri terkejut ketika saya tertawa sambil mengangkang.

Ia terus saja melihat paha saya yang mulus dan juga sedikit terlihat celana dalamnya. Suasana jadi sangat intim ketika hal itu terjadi, lalu mas Feri mendekati saya. Saya hanya terdiam ketika ia terus saja mendekati saya. Melihat saya yang tak menunjukan penolakan, tiba-tiba saja mas feri membelai paha saya yang putih itu. Seketika itu saya terdiam dan pasrah saja merasakan belaian dari tanganya.

“paha mbak benar-benar mulus ya……, apalagi wajah mbak cantik sekali.” kata mas Feri.
Saya yang terpancing dengan rangsanganya itu, saat itu pun saya berkata,

“ aaaaahhhh….., jangan disini ya mas, kita masuk saja ke dalam kamar saya” kata sata dengan penuh nafsu.
Saya pun berjalan menuju kamar dan mas Feri mengikuti saya ke kamar saja. Ketika kami sudah masuk ke kamar dan saya langsung mengunci pintu kamar karena takut anak saja masuk.

Mas Feri langsung memeluk saya dengan sangat erat. ketampanannya yang membuat saya tak tahan ingin merasakan keromantisandari mas Feri. Pelukan tersebut terasa sangat hangat dan juga kemudian mas Feri mencium bibir saya dengan sangat lembut.

Ia mecium bibir seksi saya dengan penuh gairah, pada saat itu wajah saya sudah bertatapan langsung dengan wajahnya yang tampan itu. Saya membalas ciuman tersebut dengan menggerakan bibir saya, saya memberikan respon agar suasananya semakin intim. Kemudian mas Feri membuka baju saya sehingga saya hanya memakai BH saja. Saya terus menikmati setiap sentuhan dari mas Feri.

Saat itu terlihat sangat jelas sekali payudara saya menggantung kencang dibalik BH saya. Mas Feri terlihat sangat bersemangat sekali, terlihat dari diwajahnya yang udah tak sabar ingin membuka BH saya. Dengan penuh gairah akhirnya ia melepas BH saya, Cerita Semi

“Waaaaah………. payudara mbak masih kencang ya, tak nyangka ibu anak 1 seperti mbak mempunyai payudaranya yang masih kencang sekali, ” katanya dengan heran.

Tangannya sudah mulai meremas payudara saya hingga saya sangat terangsang. Pentil susu saya mulai dimainkannya, sehingga membuat saya sangat bergairah dan sangat nafsu makin membara aja.

Saya benar-benar sangat terangsang, belaian demi belaian yang di berikan mas Feri ke saya membuat gairah saya semakin tinggi aja. Pentil susu saya di kulum dengan bibirnya dengan perlahan, saya sudah mulai horni apalagi penis mas Feri sudah mulai keras.

“oooooooooooooohhhhhh…….aaaaaaaahhhh……….mas………..oooooooooohhhh………”
Saya terus mendesah merasakan kenikmatan yang di berikan mas Feri, apa lagi pada saat ia mengulum pentil susu saya. mmmmmmmm enak kali, sekali-kali lidahnya berputar-putar menjilati pentil susu saya.
“aaaaaaaaaaaaahhh lagi maaasss……aaaaahh………aaaahh…..”

Tangannya mas Feri meraba-raba kepusar saya sampai turun ke bawah CD saya dibuka dengan kasarnya. Ia sudah tak sabar lagi saat melihat vagina saya yang besar juga mulai basah, ia buka lalu dipandangi terus vagina saya yang lebat dengan bulu-bulu jembut saya. Tangannya meraba-raba ke vagina saya dari atas ke bawah terasa sangat geli sekali namun nikmat.
“oooooouuuhhh……..aaaaaaaaahh………….ooooooohhhhhhh…….”

Terus saja ia membuat kenikmatan yang lebih lagi, ia begitu pintar membuat saya nggak berdaya merasakan kenikmatan itu. Mas Feri membuka lipatan-lipatan vagina saya lalu ia mulai menjilati selakangan saya dengan cara perlahan-lahan. Begitu nikmat sekali, rasanya saya tak rela kalau mas Feri menghentikannya.
“uuuuuuuhhhh…….. eeeeeemmmm….. iyaahh…iyaahhh….. aaaaaaahhh….ooohhh…” desah nikmat saya.

Beberapa menit ia menjilati bagian intim saya, ia pun kembali menatap wajah saya. Kemudian kami mengganti posisi kami dengan gaya 69. Saya mengulum penisnya mas Feri, terus saya jilati ujung penisnya. Saya kelum sambil saya kocok-kocok penisnya makin tegak dan besar penisnya mas Feri. Mas Feri menghisap clitoris saya dan menjilati Vagina saya.

Lubang memek saya ia kecup dengan bibirnya dengan cara brutal, rasanya saya tak tahan menahan kenikmatan birahi dengan mas Feri.
“aahh……….aaaaaaaaaakhh…………ooooooohhh………aaahhh…..mas……..”

Lidahnya menjulur menjilati vagina saya dari atas sampai bawah, Klitoris saya di kecup sangat lama sehingga tubuh saya menggeliat merasakan kenikmatan. Saya semakin bersemangat saja ketika mengulum penis mas Feri. Penis yang besar tersebut masuk semua ke dalam mulut saya. Rasanya sudah tak muat lagi bibir saya mengulum penis mas Feri.

Nafas saya makin cepat begitu juga dengan mas Feri, dengan ganasnya ia menjilati vagina saya hingga vagina saya mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Nampaknya mas Feri sudah tak tahan lagi ingin segera memasukkan penisnya ke dalam vagina saya. Kami mengubah posisi, Kaki saya buka lebar-lebar sehingga mengangkang. Vagina saya yang udah basah saat itu sudah siap di masukkan oleh penis mas Feri.

Sebelum mas Feri memasukan penisnya, mas Feri menyempatkan dirinya untuk mengulum pentil susu saya dengan penuh gairah. Kami sama-sama sangat bernafsu tinggi, gairah seks kami makin bertambah aja.
“aaaaaaaaaaahhh…..lagi mas….. sedot pentil saya lebih keras lagi mas…… aaaaaahhhhhh……..aaaaaaaahhh terus masss…..ooooohhhhhhhhh”

Saya terus memintanya untuk melakukan lebih lagi, agar terus membuat saya horni. Mas Feri menuruti semua perkataan saya sehingga saya tak kuat lagi, tubuh saya sudah dikuasai nafsu kenikmatan yang saya rasakan pada saat itu. Setelah siap untuk menjelajahi vagina saya, kaki saya yang masih mengangkang itu dibuka lebih lebar lagi. Vagina saya yang terbuka itu digesek-gesekkan dengan penis mas Feri.

Ujung penisnya terus digesek-gesekkan, sehingga membuat saya mendesah kenikmatan.
“ooooooooooohhhh………aaaaaaahhhh…….aaaaaaaakkkkhhhhh……mas…..aaaahhh….. oooohh masuk mas…..aaooouuuuhhh……”
Terus ia mencoba memasukkan penisnya itu. Dengan pelan-pelan penis tersebut masuk ke dalam vagina saya, Sebagian udah masuk ke dalam vagina saya.
“uuuhhh…….oooooohh……aaaahhhh mas…..”

Penis yang lebih besar dari pada penis mas Ilham suami saya membuat kenikmatan tersebut menjadi dua kali lebih nikmat. Dari yang biasa, kini saya merasakan hal yang sangat luar biasa nikmatnya.

Mas Feri terus menekan penisnya sampai batang penisnya masuk semuanya ke dalam vagina saya.
“Slruuuuuuupppppppppppppp uuuuuuuuuuhhhhhhh………… oooooooooooooooooooohhhhh, ” desahan kami hampir beriringan.

Mulailah ia menggerakan maju dan juga mundur dengan sangat cepatnya, tikaman penis mas Feri membuat saya lemas sampai tak berdaya. Seakan-akan penis mas Feri masuk ke dalam rahim saya. Mas Feri begitu kasar saat memainkan penisnya didalam vagina saya, walaupun begitu kasar namun itu membuat nafsu saya makin memuncak.

Saya mengimbanginya dengan menggerakkan sedikit pantat saya agar terasa lebih nikmat lagi.
Ia terus menikam penisnya masuk ke dalam vaginanya saya makin dalam, bokong saya di remas cukup keras. Secara tak sadar, saya juga menggerakan bokong saya maju dan mundur Kami sama-sama saling membantu untuk mencapai klimaks.

“oooooooooooohhhhhhhhh…….aaaaahhhhhhhhh nikmat sekali……….iyaaahh…iyaah…..” desah saya.
Kami berubah posisi kembali, kali ini saya nungging sensasinya akan lebih nikmat lagi membuat gairah seks saya makin memuncak.

“uuuuuuuuuuuuhhh……ooooooohhhhh….iyah..iayaa…mas…. iyaah…. oooohhh……uuuhhhhhhh lagi mas….lagi….”
Saya nungging dan mas Feri menusukkan penisnya dari arah belakang, bokong saya terus dicengkeram kuat agar saya terus bersemangat. Enak kali gaya nungging ini ingin lagi… dan lagi. Mas Feri cukup keras menancapkan penisnya keluar dan juga masuk hingga saya merasa lemas, tangannya sekali-kali meremas-remas payudara saya dari bawah hingga saya mendesah sangat keras.

“uuuuhhh….ooooohhhh mas enak mas… uuhh……..ooouuggghhhhhhhh…..”
Saya dan mas Feri udah memuncak hingga ia tak tahan ingin mengeluarkan spermanya itu. Sudah 25 menit kami ngentot saat itu, tak lama kemudian mas Feri tiba-tiba saja mencabut penisnya itu.
“crrrrrroooooooootttt……..ccrrroooooooottt………croooooottt…….”

Tenryata mas Feri sudah orgasme, saat itu ia semprotkan spermanya yang kental itu di bokong saya. Sangkin banyaknya sperma yang mas Feri keluarkan, rasa-rasanya bokong saya dibasahi oleh sperma mas Feri. Terlihat cukup lega dan juga puas dari raut wajah mas Feri hingga mengeluarkan suara kepuasan seks yang cukup keras.

“OOOuuuuuuuhhhhhhhhhhhh enak sekali rasanya, uuuuuuuuuuuhhhhh….. ” kata mas Feri yang cukup puas itu.
Megingat suasana yang tak memungkinkan kami untuk berlama-lama didlaam kamar, pada akhirnya ia membersihkan sperma yang membasahi bokong saya dengan tisu. Setelah itu ia memakai pakaiannya kembali.

Tanpa ada basa basi, ia meninggalkan saya di dalam kamar, saya pun bergegas merapikan baju saya lalu saya juga bergegas keluar karena udah menunjukkan pukul 4 sore takutnya suami saya sudah pulang.

Setelah listrik dirumah saya semuanya sudah berhasil di perbaiki, mas Feri dan juga teman-temannya pamit pada saya. Ia pergi seakan-akan tak terjadi apa-apa pun pada kami saat itu, Mas Feri dan teman-temannya lalu bergegas pulang meninggalkan rumah saya.

Seharian saya selalu kepikiran dan membayangkan Ngentot dengan mas Feri, sungguh enak kali seks dadakan yang saya alami dengan pegawai PLN yang tampan itu dan mempunyai penis yang cukup besar. Cerita Sex